Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena adanya di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu.
Sejarah Terbentuknya Kerajaan Majapahit
Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Raja-raja Majapahit
Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.
Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.
Raja Jayanegara (1309-1328)
Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada.
Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada.
Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)
Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman. Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.
Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman. Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.
Hayam Wuruk
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada tidak akan diganti “untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu Tandi sebagais Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami sebagai Yuamentri. Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1989.
Wikramawardhana
Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg.
Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg.
Wikramawardhana meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja berikutnya berturut-turut adalah Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan.
Sumber SejarahSumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan
Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
Kehidupan Politk
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 – 1381, Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 – 1381, Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai politikus-politikus yang handal. Hal ini dibuktikan oleh Raden Wiajaya, Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan kerajaan besar, tangguh dan berwibawa. Struktur pemerintahan di pusat pemerintahan Majapahit :
1. Raja2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini
a. Mahamantri i-hino
b. Mahamantri i –hulu
c. Mahamantri i-sirikan
4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiranb. Mahamantri i –hulu
c. Mahamantri i-sirikan
a. Rakryan Mahapatih (Panglima/Hamangkubhumi)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
5. Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, masing-masing dharmadyaka dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Upapat. Pada masa hayam Wuruk ada 7 Upapati.
Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan dibawah raja ada sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang masing-masing memerintah suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil maupun militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa sistem pemerintahan dan kehidupan politik kerjaan Majapahit sudah sangat teratur.
Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan yang menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan yang menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting.
Sebagai kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang sangat subur. Dengan daerah subur itu maka kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang sangat subur. Dengan daerah subur itu maka kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai Kerajaan Perantara – Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya. Keadaan masyarakat yang teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu. bukti-bukti perkembangan kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan berikut ini :
Candi : Antara lain candi Penataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan candi Tikus (Trowulan).
Sastra : Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadiSastra Zaman Majapahit Awal
- Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
- Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
- Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
- Kitab Kunjarakarna
- Kitab Parhayajna
- Hasil sastra zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah, diantaranya ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara lain :
- Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
- Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
- Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
- Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
- Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
- Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
- Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.

coz_xa ini tugas di sekolah loe,,,,,
Insya Allah dapat menjadi bahan saya untuk membuat visualisasinya……
Wass.,Wr.,Wb.,
aku pengen bgt ziarah ke mkm walsonk soal’a gak munkin nanti aku bs kesana…
insyaallah klw aku ada uang aku pasti pergi kesana…
aku berharap Allah mengabulkan doaku…
Aku pengen bgt kesana bersama teman2 ku namun aku gak bs…
kpn ya aku bs pergi kesana bersama teman2ku?
sbenarnya dah bagus, tapi ko sejarah sunan bonang sama sunan kudus ko sama ya?? apakah ini benar2 sama atau salah? kalau salah cepat dganti ya,soalnya aku pengen banget mengenal sejarah walisongo.mksih
wass,.
sekali lagi terimakasih atas artikel ini karena aq telah mengerjakan tugas ..
trim’s rieshaa
karena da situs niech, Quw bikin tugas….!!
karna saya ada tugas dari sekolah tentang wali songo
soalnya ada tugas dari sekolah.>.<
bagaimana kita menyikapi dan berbuat sebaik mungkin demi kebaikan dan keindahan akan ajaran islam
“rockym al ayuby”
makasih sebelum ya
satu yg mengganjal untuk Sunan Bonang sama Sunan kudus sepertinya sama apa ada kesalahan atau bagaimana, mohon untuk penjelasannya.
Nab Bahany As, budayawan, tinggal di Banda Aceh
tapi tolong dong di kasi lukisan prawali nya supaya lebih lengkap cerita nya…
Bagus..
benar-benar sangat ber ARTI bagi Saya
‘terimaksih nara sumber..
ak kagum pda beLiau2 dan rindu…
terutama pda baginda nabi muhamad SAW…
Seandainya kalau kita di tanya sama orang lain, kita sudah tahu sejarahnya kan.
wasalam
. TAKJUB ……….
kalo ada yang punya minta dunk hehehe
soale kita mo berziarah ke makam wali songo so kami lum tau di mana tempat ato makam dari wali songo tersebut..
bagi yang punya dan mau membagi nya kami ucapkn terimakasih.
paling tidak bisa berbagi pengetahuan utk org banyak.
barokalloh. amin
ni bkan hanya skedar pengetahuan tpi jga motivasi buat diri kita tuk bsa mningkatkan ibadah kita kpada sang khaliq….
wali songo itu patut kita kenang sepanjang masa, karena ialah para pahlawan pembela islam,
jika para pahlawan nasional & revolusi selalu kita kenang, mengapa wali songo tidak..?
SOngo iti artinya APa 9 kan
Ats artikel nya
Moga” qta dpat bermotifasi dari ap yg dlakukan oleh pra wali dan muridnya..
Pökonya top deh sjrhnya…
apakah kita uga mnjdi seperti wli” allah nii
tpi mklo kta orang sunda orang mati itu disebutnya ngantunken
yaitu :meningglkan ,,
klo para wali mati dunia pasti hancur
itu yang sya tau dari guru saya
Semoga artikel ini, bisa menambah kiimanan dan ketaqwaan kita dengan belajar dari perjuangan syiar islam.
*orang klambu*
Sarat dengan Riwayat’
Bacaan bermanfaat,,,
Pengabdian tulus para wali Allah dlm mynyebarkan Syariat Islam,,
terima kasih para wali…
Jasa Besarmu takan terlupakan slama Bumi terkembang dan Langit Terbentang,kami smua merindukan’mu…!!!
“thanks to Penulis”
Trmksh ats muatannya…
ingin berkata
wali songo adalah benar2 ada
ajaran dri wali songo adalah
yaitu menganjurkan sholat dan yg terlarang
bela diri wali songo adalah
pencak silat
jazakumullah akhsanal jaza wahai waliyullah.. smoga ALLAH ridha akan perjuangan panjenengan..
wali paling tinggi diantara wali songo,
yang menurut sgelintir orang ia mati di bunuh,
dan nyatanya ia mati seperti kisah nabi sulaiman. dihadapan para wali songo.
Sangat bermanfaat untuk saya dan keluarga saya… Mudah2an tulisan ini akan bermanfaat sepanjang masa… Terus berkarya…
indonesia entah apa j
adinya bangsa ini.
teruskan menulis cerita wali, tingkatkan lagi mutunya.
Maturthank’U….
murni pilihan Identicon dari WordPress koq.
Thx be4…
Moga mendapat pahala yang banyak. amin.
cuma mau tanya pak? kok riwayat sunan bonang jadi riwayat sunan kudus,,gmn ceritanya itu? apa salah ketik,,maap saya kurang paham,,jdnya,,mohon penjelasannya karna kwatir salah harap dimaklum aja saya orang awam,,
trimakasih..
THANK’S
tp bagaimana agar anak2 bisa tertarik??? mohon sumbang fikir,thanks
fit copy ea bwt tugas….
informasi.y bermanfaatt ..
Terima kasih atas infonya.
Dari beberapa literatur yang saya baca bahwa beberapa wali dari wali songo itu adalah orang Tionghoa atau keturunannya misalnya Sunan Bonang (Bong Ang, putera Sunan Ngampel alias Bong Swee Ho), Sunan Derajat juga putera Sunan Ngampel, Sunan Kalijaga (Gan Si Chang). Apa itu benar….?. mohon dijelaskan lebih detail lagi. Terima kasih
kmarend ane biz Ziarah ke sembilan makam wali seru dan mengesankan,,,, I Love dech Wali sogo
kalo ghini sih
tugas sklh ku lengkap
THank’s bngt Yaa….
Matur suwun informasinipun,nangeng menawi luweh prayogi maleh di pun paringi asal mulai alit,ngantos punopo kemawon engkang sampun di pun jalani,mulai dari kecil ngantos wafat ipun.
Matur suwun. . . . . . . . .
Assalamu’alaikum. . . .
Marilah kita ambil bersama-sama kearifan beliau-beliau dalam menghadapi perbedaan.
Wassalammu’alaikum wr. wb.
bGus banGet tuh bWat inGet2 pELajaran SEJARAH,
thAnks..
terima kasih mas/kak atas artikel naya…………bisa bermanfaat buat saya…,,,..sekian terimakasih……….,,,,,
WASALAM
…………. amiiiiiiiin
tapi kita yang terlahir dijaman modern. kenapa jauh lebih terbelakang dibanding dengan kehidupan kuno, yang selalu Damai, sejahtera, jauh dari malapetaka. Gemahripah lohjinawi. Maka Dekatlah pada Allah… Tuhanmu. Lakukan apa yang menjadi perintahnya dan Jauhi larangannya.
soal’a bermanfaat banget bagi saya …
dengan perjuangan para wali akhir’a islam lahir ..
asalammualaimkokok truz
Terimakasih atas pengetahuan sejarahnya…………..
sangat mencerahkan…. semoga bisa menjadi penerus perjuangan Para Wali Allah (Wali Songo)…. Amin…
saya mengucapkan banyak terimakasih kpd penulis artikel ini!
karena dengan ini saya bisa dengan mudah mengerjakan tugas2 dengan cepat mengenai sejarah islam.
sekali lagi saya ucapkan terimakasihh yg sebanyak2 nya
WASSALAM!
wkwkwkw
mkasih y,, d shre lbh bnyk lgi,.,.,.
H. Rosihan Anwar dan Sejarah Aceh – Mengenai Asal-usul Walisongo dari Kerajaan Samudra – Pasai
Oleh tambeh
H. Rosihan Anwar dan Sejarah Aceh
*Beliau meninggal, Kamis, 14 April 2011 di Jakarta
Oleh: T.A. Sakti
Haji Rosihan Anwar bukan hanya terkenal dengan julukan “wartawan tiga zaman”, tetapi beliau diakui pula sebagai budayawan, sastrawan dan juga sejarawan. Tulisannya mengenai sejarah dapat kita baca dalam sejumlah buku, baik yang khusus sejarah maupun yang bersifat “bunga rampai” serta dalam berbagai majalah dan media koran lainnya.
Salah satu tulisan beliau yang telah saya simpan lebih 23 tahun adalah sebuah kliping koran Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta tertanggal 15 Maret 1988 halaman “Opini” dengan judul “ Kerajaan Islam Samudera-Pasai di TVRI” Mengapa saya begitu setia menyimpan ‘koran bekas’ yang bahkan sudah berbau lumpur tsunami Aceh ini?. Alasannya tak lain, hanya karena amat sedikit saya menjumpai para pengarang di Indonesia yang mengaitkan sejarah Wali Songo di Jawa dengan asal-usul mereka di Aceh, tepatnya dari Kerajaan Samudea-Pasai.
Diantara sedikit penulis Indonesia yang berbuat demikian adalah Prof,Dr. Hamka, Solichin Salam, H.M. Zainuddin , Prof.A.Hasjmy dan H.Rosihan Anwar sendiri. Sementara sebagian penulis Indonesia yang lain, samasekali tidak menyebut lagi Kerajaan Samudra-Pasai, ketika mereka meriwayatkan kehidupan Walisongo yang kesemua kubur beliau berada dipulau Jawa itu
Dengan telah meninggalnya H. Rosihan Anwar di Jakarta, 14 April 2011 yang lalu (baca:”Wartawan’Catatan Kaki Sejarah’ Itu Telah Tiada”, Serambi Indonesia, Jum’at, 15 April 2011 halaman 1), maka sejauh yang saya maklumi telah “habislah” para penulis sejarah Islam Indonesia yang ‘menghubungkan’ sejarah Walisongo di Jawa dengan asal-usul mereka dari Kerajaan Samudra Pasai – karena Prof.Dr. Hamka, H.M. Zainuddin, Prof.A.Hasjmy dan Solichin Salam telah duluan meninggal dunia -. Dengan demikian “putuslah jaringan sejarah” penyebaran Islam antara Aceh dengan Jawa. Padahal sejak lama jalinan sejarah itu memang suatu fakta sejarah yang tidak diperdebatkan lagi tentang kesahihannya. Hampir semua kitab babad, serat yang ada di Jawa mengisahkannya. Begitu pula dengan cerita rakyat di Jawa seperti ketoprak, termasuk “ketoprak humor” yang pernah disiarka RCTI beberapa tahun lalu juga menceritakannya.
Prof.Dr. Hamka dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan dicetak di Singapura menyebutkan, “ banyaklah putera Pasai meningggalkan kampung halamannya, terutama sejak dua kali serangan yang menyedihkan, pertama dari Siam, kedua dari Majapahit. Dan akhirnya di tahun 1521 diserang pula oleh Portugis. Kerajaan Majapahit yang keras mempertahankan kehinduannya itu, sehingga menyebabkan negeri Pasai terpaksa mengakui takluk kebawah naungannya, menyebabkan beberapa anak Pasai pergi merantau ketanah Jawa sendiri, terutama ke Jawa Timur dan menetap disana. Jika negerinya sendiri telah terbakar, dibakar oleh suatu kekuasaan besar, anak Pasai itu telah pergi ke hulu kekuasaan itu, ke daerah kekuasaan Majapahit sendiri dan mengembangkan pula cita-citanya di sana. Dengan suatu ajaran rohani yang murni, Majapahit telah mereka perangi pula, bukan dengan senjata. Apa yang mereka tanamkan itulah kelaknya yang akan besar dan kukuh, menjelma menjadi Kerajaan Islam Demak.
Seorang di antara anak Pasai itu ialah Falatehan, atau Fatahillah, atau bernama juga Syarif Hidayatullah, datang ke Jawa sebab negerinya diserang Portugis ( 1521 ). Mulanya menjadi panglima perang dari Kerajaan Islam Demak untuk menaklukkan Jawa Barat, Kerajaan Galoh dan Pajajaran, dan akhirnya menjadi pendiri dari pada dua Kerajaan Islam sesudah Demak, iaitu Bantam dan Cirebon” (baca: buku karya Prof.Dr. Hamka yang sudah diterjemahkan ke bahasa Melayu, “Sejarah Umat Islam”, edisi baru, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 2005 halaman 708 – 709)
Masih dalam buku yang sama, pada halaman 745 Prof.Dr. Hamka melanjutkan lagi:”Tersebut perkataan, bahwasanya raja negeri Campa itu beranak dua orang perempuan. Yang tertua bernama Darawati diambil isteri oleh Angkawijaya Raja Majapahit. Itulah yang lebih terkenal dengan sebutan Puteri Campa itu. Dan anak perempuannya yang seorang lagi kawin pula dengan seorang penyair Islam dari Tanah Arab, maka mendapatlah putera Raden Rahmat.
Kalau benar bahwa Campa itu bukan yang di Annam Indo-China, tetapi di Aceh, iaitu negeri Jeumpa, sudah tidak pelak lagi bahwasanya Raden Rahmat, adalah keturunan Arab datang dari Aceh.
Dikirimlah Raden Rahmat itu oleh nenek Raja Campa (Jeumpa) ke tanah Jawa dan singgah dua bulan di Palembang, Lalu diajaknya Aria Damar; Adipati Majapahit memeluk Islam. Aria Damar memeluk Islam dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian Raden Rahmat meneruskan perjalanan ke Jawa”.
Solichin Salam, dalam bukunya “Sekitar Wali Sanga”, Penerbit Menara Kudus, Semarang, 1974, juga mengakui bahwa sebagian wali itu punya asal-usul dari Kerajaan Samudera-Pasai. Penulis lain, Umar Hasyim, dalam bukunya “Sunan Giri”, Penerbit Menara Kudus, Semarang, 1979 di halaman 21 menyebutkan:”Maulana Ishak diberi tugas oleh Zawiyah Cot Kala untuk menyebarkan Islam ke Jawa. Beliau kawin dengan salah seorang puteri Blambangan. Dari perkawinan itu beliau dikaruniai seorang putera yang bernama Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri”.
Kalau merujuk kepada pendapat- para pengarang tersebut di atas serta beberapa tulisan lepas lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa enam orang dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa adalah berasal dari Aceh. Beliau-beliau itu adalah: .1. Maulana Malik Ibrahim, 2. Malik Ishak (Sunan Giri), 3. Ali Rahmatullah/Raden Rahmat (Sunan Ampel), 4. Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang), 5. Masaih Munad (Sunan Drajat), dan 6. Syarief Hidayatullah/Fatahillah (Sunan Gunung Jati).
Beberapa sumber menyebutkan, bahwa pada masa Kerajaan Samudra-Pasai di bawah pemerintahan Sultan Zainal Abidin Bahian Syah (± 797 H/1395 M), sebuah Tim Dakwah Islam yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim telah dikirimnya ke pulau Jawa
H. Rosihan Anwar juga berpendapat demikian. Pada peringantan Hari Israk Mikraj tahun 1988, H. Rosihan Anwar menjelaskan lewat TVRI-Jakarta dan beberapa suratkabar antara lain sebagai berikut: “Masuknya Islam ke Jawa adalah karena usaha juru dakwah dari Pasai. dari sembilan wali (wali songo) yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke 14, ke 15 dan ke-16 Masehi, maka empat wali berasal dari Samudra Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Wali pertama adalah Malik Ibrahim yang wafat dan dimakamkan di Gresik tahun 1419; beliau seorang saudagar Persia, berasal dari Gujarat, India.
Akan tetapi wali kedua yang muncul pada pertengahan abad ke-15 bernama Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang makamnya terdapat di Kampung Arab di Surabaya, berasal dari Pasai. . Beliau wafat kira-kira tahun 1481. kedua putranya, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Bonang yang kemudian bermukim di Tuban dan juga menjadi wali, pun berasal dari Pasai.
Terakhir dari wali songo adalah Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Fatahillah atau Falatehan, lahir di Basma, Pasai tahun 1490. setelah menjadi wakil kerajaan Demak di Banten, Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon pada tahun 1552, beliau wafat tahun 1570.
Orang sedikit sekali menyadarinya, tetapi memang demikianlah faktanya, bahwa 4 (empat) dari 9 (sembilan) wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa berasal dari Samudra Pasai”. Demikianlah pendapat H. Rosihan Anwar tentang asal-usul Walisongo (Lihat : “Kerajaan Islam Samudra Pasai di TVRI” oleh: H. Rosihan Anwar, Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 15 Maret 1988 halaman 4/Opini).
Dewasa ini, sudah semakin langka para penulis sejarah Islam di Indonesia yang menghubungkan kisah Walisongo dengan negeri Samudra-Pasai di Aceh. Menurut kebanyakan penulis “sejarah” sekarang, agama Islam yang menyebar ke seluruh Nusantara bukanlah mulai bergerak dari Aceh, melainkan dari Kerajaan Campa( di negara Kamboja – sekarang). Oleh hal demikian, maka hilanglah “jaringan Aceh” sebagai tempat mula bertapaknya Islam di Indonesia seperti yang diyakini selama ini. Menurut pengarang tempo dulu, negeri Campa adalah Kerajaan Jeumpa yang terletak di wilayah Bireuen, di Aceh sekarang; bukan kerajaan Campa yang terdapat di negara Kamboja( baca:”TV Malaysia Telusuri Jejak Campa di Aceh”, Serambi Indonesia, Jum’at, 15 April 2011 halaman 10/Nasional). Sejarah Kerajaan Jeumpa, memang belum begitu jelas sosoknya hingga hari ini. Sebagai seorang anak, dulu yang pernah saya dengar hanya Hikayat Putroe Jeumpa ( Hikayat Putri Jeumpa) yang diperebutkan oleh raja Cina, tetapi gagal. Membaca ucapan C atau J dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe, yaitu Jim, memang nyaris tak ada beda, sehingga boleh saja orang membaca Kerajaan Campa, kalau dalam bahasa Melayu/Indonesia atau Jeumpa, bila dalam bahasa Aceh.
Sebuah buku terbaru tentang Walisongo, yang berjudul “Sejarah Walisongo – Misi Pengislaman di Tanah Jawa”penerbit Grha Pustaka, Yogyakarta, dapat menjadi bukti ‘terbaru’ pula bagi kita, bahwa para penulis kisah Walisongo dewasa ini samasekali tidak menyinggung lagi Kerajaan Samudra-Pasai; ketika mereka mengisahkan riwayat Walisongo. Buku ini ditulis oleh Budiono Hadi Sutrisno, seorang sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip)- UGM Yogyakarta yang amat produktif menulis berbagai buku. Ternyata buku “sejarah Walisongo” ini menjadi buku ‘best seller’/ laku-keras yang mulai diterbitkan tahun 2007, namun sudah mengalami cetakan ke 9 pada Januari 2010. Dalam buku ini juga tidak sekali pun menyebut Kerajaan Samudra-Pasai sebagai tempat asal sebagian Walisongo.
.Sebuah buku lain yang telah lama beredar, cetakan ke-4 terbitan Bandung (1996) “Seri Wali Songo” yang ditulis Arman Arroisi juga berpendapat serupa mengenai asal-usul wali songo. Karena buku ini ditulis berseri, maka setiap orang wali ditulis dalam sebuah buku khusus/tersendiri dengan buku berbentuk lebar dengan huruf dan illustrasi gambar yang besar-besar.Pada buku yang dikhususkan kepada anak-anak in, Sunan Ampel disebutkan berasal dari negeri Campa di Kamboja. Singkat kata, baik buku bacaan anak-anak maupun buku bacaan orang dewasa yang menyangkut kisah Walisong dewasa ini; semuanya telah ‘memberi talak tiga’ kepada kerajaan Samudra-Pasai.
Padahal dalam buku “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, Grafiti Pers, Jakarta, 1986, menyebutkan Sunan Ampel berasal dari Aceh. Buku yang semula berbahasa Belanda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia; ditulis oleh dua sejarawan Belanda, DR. H. J. De Graaf dan DR. TH. G. TH. Pigeaud.
Mengenai asal-usul Sunan Ampel dari Campa, kedua sejarawan Belanda ini tidak menganggap negeri Campa yang berada di negara Kamboja, tetapi negeri Jeumpa yang terletak diwilayah Bireuen sekarang. Begitulah ‘arus sejarah’ yang berkembang sekarang, bahwa sejarah Kerajaan Samudra-Pasai “ semakin tenggelam” dari jalur riwayat Walisongo di Tanah Jawa.
Sebelum masalah asal-usul Wali Songo dari Aceh semakin gelap, alangkah baiknya digerakkan suatu upaya untuk menelusuri kembali sejarah wali-wali itu mulai dari Aceh sampai ke pulau Jawa. Sebagai langkah awal saya mengajukan beberapa saran.Pertama,
agar dilakukan cetak ulang semua buku yang pernah mengaitkan sejarah Waisongo dengan negeri asal mereka; Kerajaan Samudra-Pasai seperti buku-buku karya Prof.Dr. Hamka, Solichin Salam, H.M. Zainuddin, Prof. A,Hasjmy,H. Rosihan Anwar dan lain-lain. Kedua,
buku-buku hasil cetakan itu perlu disebarkan ke berbagai Perpustakaan sekolah dan pustaka umum. Ketiga, mendesak pihak berwenang buat mengadakankan Seminar Internasional tentang Sejarah Walisongo, yang dilangsungkan di Banda Aceh. Keempat, memproduksi Film dokumenter/sinetron mengenai kisah profil Walisongo, yang isinya mengandung asal mula kehidupan sang wali di Kerajaan Samudra-Pasai.
Pihak mana yang paling bertanggung jawab bagi terwujudnya semua saran tadi.
Menurut saya banyak pihak yang wajib melestarikan sejarah Islam di Indonesia, yaitu:
1. Pemerintah Negara Republik Indonesia.
Betapa tidak!. Sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang bermula di Aceh lantas berkembang ke seluruh persada tanah air Indonesia- bahkan kesegenap wilayah Asia Tenggara – merupakan “benang merah” yang amat kuat yang telah merajut persatuan nasional Indonesia, akibat persamaan sejarahnya. Bila benang merah ini ‘putus’, maka terganggulah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).
Sebagai sebuah bangsa besar, pemerintah kita jangan mengharapkan bangsa lain yang akan melestarikan sejarah kebangsaan kita. Misalnya, buku “Sejarah Umat Islam” karya Prof.Dr.Hamka yang dicetak ulang di Singapura setelah diterjemahkan ke bahasa Melayu, merupakan sumbangan bangsa luar bagi pelestarian sejarah nasional kita. Begitu pula dengan usaha TV Malaysia yang sedang merekam jejak Sejarah Kerajaan Jeumpa/Campa di Aceh; termasuk pula hadiah bangsa serumpun/Melayu bagi memperteguh identitas bangsa kita.
Sebagai bangsa yang ‘malas bergerak’ kita jangan hanya pandai “demo dan mengomel”, bila saudara di negara jiran kita bertindak!. Kita tentu masih ingat, bahwa beberapa jenis kesenian dan benda budaya Indonesia; telah diklaim milik negara Malaysia!!!.
2. Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darussalam.
Sejarah awal perkembangan Islam di Indonesia/Asia Tenggara dimulai dari Aceh. Hal ini bukanlah dongeng, tetapi fakta sejarah. Banyak pendakwah dari Aceh berangkat ke berbagai pulau di Nusantara buat menyiarkan agama Islam merupakan fakta sejarah pula. Namun, bila sekarang kesemua “jaringan sejarah Aceh”itu telah ‘diputuskan’ orang, tentu amat rugi bagi citra baik Aceh sebagai sumber awal berkembangnya Islam di Nusantara. Apalagi bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang kini sedang menampilkan diri sebagai negeri Syariat Islam, dengan hilangnya jejak-jejak Islam tadi, tentu bagaikan akar Syariat Islam di Aceh telah tercerabut/tercabut pula.Padahal di masa lalu Aceh terkenal dengan gelar ‘Negeri Serambi Mekkah” yang tentunya didukung berbagai fakta sejarah di masa silam.
3. Dunia Islam.
Berbagai lembaga Islam di tingkat dunia, seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI), Rabithah Alam Islamy dan Lembaga Kebudayaan Islam lainnya wajib melestariakan kebudayaan Islam yang tersebar di seluruh dunia. Kini, yang diketahui umum hanya negara-negara atau lembaga non muslim yang telah berjasa melestarikan budaya Islam. Sementara negara-negara Islam yang kaya raya, sibuk menghabiskan dana buat bidang politik saja!
Akhirul kalam, Innalillahi wainna ilaihi raji’un, semoga arwah H. Rosihan Anwar diterima baik di sisi Allah Swt, Aminn!!!
• Penulis, peminat bidang kewartawanan dan sejarah, tinggal di Banda Aceh.
Catatan : saya tidak keberatan bila tulisan ini diringkas oleh redaktur Serambi, sesuai kebutuhan !.
MELACAK JEJAK WALI SONGO DI ACEH
Oleh tambeh
Melacak Jejak Wali Songo di Aceh
Oleh: T.A. Sakti
Meski Gema Tahun Budaya 2004 yang sudah lebih dua bulan dicanangkan masih amat sepi, namun saya tetap ingin meramaikannya dengan saran-saran dalam tulisan singkat ini. Berpedoman pada agenda Tahun Budaya 2004, bahwa Pemda NAD berprinsip : “tidak satu pun khazanah kebudayaan Aceh yang hampir punah tidak bisa dilestarikan dan diselamatkan. Meskipun saat ini adanya di Negeri Belanda” (Serambi Indonesia, Selasa 24 Februari 2004 halaman1), maka pada kesempatan ini saya ingin membicarakan masalah asal-usul sebagian Wali Songo (Wali Sembilan), yang sekarang kuburan-kuburan beliau berada di pulau Jawa.
Memang amat sedikit para pemulis sejak era Republik Indonesia yang mengkaji asal-usul Wali Songo secara tuntas. Di antara yang sedikit itu tersebutlah Prof. Dr. Hamka, Solichin Salam, Prof. A. Hasjmy dan H. Rosihan Anwar. Kalau merujuk kepada pendapat para pengarang tersebut di atas serta beberapa tulisan lepas lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa enam orang dari Sembilan Wali (Wali Songo) yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa adalah berasal dari Aceh(Kerajaan Samudera Pasai).. Beliau-beliau itu adalah: . Maulana Malik Ibrahim, 2. Malik Ishak (Sunan Giri), 3. Ali Rahmatullah/Raden Rahmat (Sunan Ampel), 4. Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), 5. Masaih Munad (Sunan Drajat), dan 6. Syarief Hidayatullah/Fatahillah (Sunan Gunung Jati).
Pada peringantan Malam Israk Mikraj tahun 1988, wartawan senior H. Rosihan Anwar menjelaskan lewat TVRI-Jakarta dan beberapa suratkabar; antara lain sebagai berikut: “Masuknya Islam ke Jawa adalah karena usaha juru dakwah dari Pasai. Dari sembilan wali (Wali Songo) yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke 14, ke 15 dan ke-16 Masehi, maka empat wali berasal dari Samudra Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Wali pertama adalah Malik Ibrahim yang wafat dan dimakamkan di Gresik tahun 1419; beliau seorang saudagar Persia, berasal dari Gujarat, India.
Akan tetapi wali kedua yang muncul pada pertengahan abad ke-15 bernama Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang makamnya terdapat di Kampung Arab di Surabaya, berasal dari Pasai. Beliau wafat kira-kira tahun 1481. Kedua putranya, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Bonang yang kemudian berkemukiman di Tuban dan juga menjadi Wali, pun berasal dari Pasai.
Yang terakhir dari Wali Songo adalah Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Fatahillah atau Falatehan, lahir di Basma, Pasai tahun 1490. Setelah menjadi wakil kerajaan Demak di Banten, Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon pada tahun 1552. beliau wafat tahun 1570.
Orang sedikit sekali menyadarinya, tetapi memang demikianlah faktanya. Empat dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa berasal dari Samudra Pasai”. (Lihat : “Kerajaan Islam Samudra Pasai TVRI” oleh: H. Rosihan Anwar, Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 15 Maret 1988 halaman 4/Opini).
H. Rosihan Anwar hanya menyebut empat dari sembilan wali yang berasal dari Aceh (tepatnya dari Kerajaan Samudra Pasai, yang lokasinya dekat kota Lhokseumawe – sekarang). Namun, penulis yang lain mengakui pula, bahwa Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak/Raden Paku (Sunan Giri) juga berasal dari Pasai. Beberapa sumber menyebutkan, bahwa pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin Bahian Syah (± 797 H/1395 M), sebuah Tim Dakwah Islam yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim telah dikirimnya ke pulau Jawa.
Melacak bukti sejarah Wali Songo dan beberapa wali lainnya di Jawa cukup mudah, karena berbagai jenis sumber tersedia di sana. Lain halnya, jika kita hendak melacak jejak wali-wali tersebut ketika belum merantau ke pulau Jawa. Bagaimana kehidupan mereka semasa masih kanak-kanak di Kerajaan Samudra Pasai (di Aceh). Sultan yang mana yang sedang berkuasa saat itu?. Latar belakang apa yang menyebabkan calon-calon wali-wali itu berangkat ke Jawa? Apa, karena terpaksa?, suka rela? atau sengaja dikirim Sultan Samudra Pasai sebagai juru dakwah untuk mengembangkan agama Islam di pulau Jawa?.
Semua pertanyaan di atas hampir mustahil bisa dijawab, karena suber-sumber sejarah mengenai wali sama-sekali tidak terdapat di Aceh. Cerita rakyat, legenda, batu bersurat, kitab-kitab lama juga tidak pernah menyinggung masalah calon-calon wali tu. Jadi, perihal kehidupan wali-wali semasa masih kecil di Aceh – di Kerajaan Samudra Pasai- masih merupakan fakta sejarah yang gelap; yang entah kapan bisa terungkap?.
Sebelum masalah asal-usul Wali Songo dari Aceh semakin gelap, alangkah baiknya jika dalam tahun Budaya 2004 ini digerakkan suatu upaya untuk menelusuri sejarah wali-wali itu; mulai dari Aceh sampai pulau Jawa. Sebagai langkah awal, perlulah tempat-tempat yang dianggap terikat dengan wali-wali di Aceh agar mengabadikan nama wali (semasa kecil) di tempat itu. Bangunan Mesjid, Meunasah, Dayah-Pesantren, sekoah dsb. ;juga perlu dinamakan dengan nama-nama harum dari wali-wali tersebut.
Sebuah buku cetakan ke-4 terbitan Bandung (1996) “Seri Wali Songo” yang ditulis Arman Arroisi telah mencantumkan pendapat yang berbeda mengenai asal-usul Wali Songo. Pada buku yang dikhususkan kepada anak-anak ini, Sunan Ampel disebutkan berasal dari negeri Campa di Kamboja. Padahal dalam buku “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, Grafiti Pers, Jakarta, 1986, menyebutkan Sunan Ampel berasal dari Aceh. Buku yang semula berbahasa Belanda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia; ditulis oleh dua sejarawan Belanda, DR. H. J. De Graaf dan DR. TH. G. TH. Pigeaud.
Mengenai asal-usul Sunan Ampel dari Campa, kedua penulis buku ini tidak menganggap negeri Campa yang di negara Kamboja, tetapi negeri Jeumpa yang terletak diwilayah Bireuen -Aceh – sekarang.
Begitulah, bila pihak-pihak terkait di Aceh, terutama Pemda Aceh terus-menerus tidak peduli dengan upaya “mempatenkan” asal-usul sebagaian Wali Songo berasal dari Aceh, besar kemungkinan dalam waktu tidak lama lagi, sejarah asal-usul wali-wali itu akan jatuh ke daerah lain, bahkan pula ke negara lain. Ketika hal itu terjadi, maka pupuslah salah satu sebab mengapa daerah Aceh digelar negeri Serambi Mekah!!!.
T. A. Sakti
Banda Aceh,29-4-2004.
Saya pernah membaca sebuah artikel dari teman saya tentang asal-usul Wali Songo dan saya sangat kaget mungkin agan-agan juga, karna di artikel itu dijelaskan kalau Para Wali itu sesungguhnya bukanlah dari tanah Arab seperti yg kita bayangkan selama ini di artikel itu dijelaskan kalau bangsa Arab datang ke Nusantara ini tidak lebih hanyalah sekedar berdagang semata tujuan utamanya tidak lebih dari itu didalam artikel itu dijelaskan secara panjang lebar dari beberapa Wali yg ada di Nusantara ini justru mereka lebih dekat dengan Budaya China bukan dengan budaya Arab ternyata disitu dijelaskan kalau para Wali yg datang ke Nusantara ini sesungguhnya mereka adalah orang-2 keturunan Tionghoa.
Saya sempat mengcopy nama-2 dari para Wali yang antara lain :
1. Sunan Ampel alias Bong Swie Ho
2. Sunan Drajat alias Bong Tak Keng
3. Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
4. Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
5. Sunan Gunung Jati alias Du Anbo – Toh A Bo
6. Sunan Kudus alias ZhaDexu – Ja Tik Su
7. Sunan Giri taya sanes putuna Bong Swie Ho
8. Sunan Muria
9. Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat”.
Kalau kita mau telaah lagi kebelakang mungkin Agan-agan semua pada tahu siapa WONG PE HUNG ?… itu jagoan silat yg sering diperanin sama JET LIE ternyata beliau adalah seorang muslim yg taat dan dia itu seorang Ustad, trus Agan-agan pasti kenal SAM PO KONG (Panglima perang Cheng Ho) beliau adalah sorang Muslim yg taat singgah dan menetap lalu wafat di Semarang.
Saya sudah lama mencari asal-usul WALI SONGO selama ini yg saya dapat hanya sejarah perjalanan selama penyebaran agama Islam bukan darimana asal-usul apa & siapa para WALI SONGO itu mudah-mudahan apa yg saya tulis ini ada gunanya bagi Saudara/i
“Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rachmat dilahirkan pada tahun 1401 di Champa (sekarang Kamboja atau VIETNAM). bukan dari Arab Beliau pertama kali datang ke tanah Jawa ini pada tahun 1443. Dan pada tahun 1479 Sunan Ampel mendirikan Masjid Demak
Lalu Raden Patah alias Chen Jinwen – Tan Jin Bun sebagai Sultan. Beliau adalah putera dari Cek Kopo dari Palembang”.
“Orang Portugis menyebut Raden Patah dgn sebutan ”Pate Rodin Sr” selaku ”Persona de grande syso” (orang yg sangat bijaksana) atau ”Cavaleiro” (bangsawan yg mulia). Namun, orang Belanda kurang percaya kalau Sultan Islam wiwitan di Jawa itu berasal dari Tionghoa. ”Masa sultan Islam itu orang Tionghoa?”. Keraguan itu, berasal dari Residen Poortman 1928 pertama tugas di pemerintahan Belanda yg harus mengadakan penelitian : Apa betul Raden Patah itu orang Tionghoa?”
“Poortman diberi tugas harus menggeledah Kelenteng Sam Po Kong, alias menyita segala naskah bahasa Tionghoa, yg sudah berusia lebih dari 400 tahun kebelakang. Banyaknya saat itu lebih dari tiga pedati. Arsip-arsip Poortman itu telah dikutip oleh Parlindungan yg membuat buku sejarah karajaan Islam wiwitan.
“Yg membuktikan Raden Patah itu benar-2 orang Tionghoa, bisa dilihat dan dibaca dari Surat Kanda Raden Patah yg mempunyai gelar Panembahan Jimbun. Di babad Tanah Jawa disebut selaku Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dari dialek Hokkian mengandung arti ”manusa kuat”.
“Juga perlu diketahui kata “Kyai” juga yg saat ini banyak digunakan, tiada lain sesebutan untuk Guru agama Islam. Ternyata sama dengan sebutan Lelaki Tionghoa Totok, seperti panggilan “Encek”.
“Ada lagi satu contoh pakaian Gamis yg sering digunakan kaum muslim Indonesia disaat ibadah sholat utamanya kalau akan sholat jamaah di Masjid. Baju itu persis 100% baju tradisional China. Begitu juga dengan baju KOKO silahkan agan simak bahasa dari mana ?….. lalu topi haji juga yg banyak dipakai oleh para haji di Indonesia ini, itu berasal dari China, di jajaran negara Islam atau Timur Tengah pakaian itu TIDAK ADA”.
Artikel ini berdasarkan Referensi dari Pustaka yg berada di Leiden dan Den Haag”.
Jika agan-2 kurang setuju dengan artikel ini atau mungkin punya artikel lain yg bisa lebih di percaya saya minta maaf saya akan lebih senang bila ada teman yg mau berbagi tapi saya tidak menerima artikel yg hanya sekedar pendapat pribadi tanpa di lampiri dengan data-data yg tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Setuju atau tidak dengan artikel ini mari kita telusuri lebih jauh lagi, kebenaran harus diungkap secara gamblang tidak perlu ditutupi entah darimana itu datangnya
smoga semua impian ilmu islam kan trkabul
amien
lovely
amalina
km adlh org mu’min, artinya
orang yg iman.
sangt jarg org spert km, yg msh pduli dgn sjarah islam.
semoga sukses selalu. amin
* Angkatan ke-1 (1404 – 1435 M), terdiri dari Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419), Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Maulana Malik Isra’il (wafat 1435), Maulana Muhammad Ali Akbar (wafat 1435), Maulana Hasanuddin, Maulana ‘Aliyuddin, dan Syekh Subakir atau juga disebut Syaikh Muhammad Al-Baqir.
* Angkatan ke-2 (1435 – 1463 M), terdiri dari Sunan Ampel yang tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq (wafat 1463), Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Sunan Kudus yang tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il, Sunan Gunung Jati yang tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin (wafat 1462), Maulana ‘Aliyuddin (wafat 1462), dan Syekh Subakir (wafat 1463).
* Angkatan ke-3 (1463 – 1466 M), terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465), Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465), Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin, Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir.
* Angkatan ke-4 (1466 – 1513 M, terdiri dari Sunan Ampel (wafat 1481), Sunan Giri (wafat 1505), Raden Fattah yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Fathullah Khan (Falatehan) yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Derajat, dan Sunan Kalijaga (wafat 1513).
* Angkatan ke-5 (1513 – 1533 M), terdiri dari Syekh Siti Jenar yang tahun 1481 menggantikan Sunan Ampel (wafat 1517), Raden Faqih Sunan Ampel II yang ahun 1505 menggantikan kakak iparnya Sunan Giri, Raden Fattah (wafat 1518), Fathullah Khan (Falatehan), Sunan Kudus (wafat 1550), Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang (wafat 1525), Sunan Derajat (wafat 1533), dan Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya Sunan Kalijaga.
* Angkatan ke-6 (1533 – 1546 M), terdiri dari Syekh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu) yang ahun 1517 menggantikan ayahnya Syekh Siti Jenar, Raden Zainal Abidin Sunan Demak yang tahun 1540 menggantikan kakaknya Raden Faqih Sunan Ampel II, Sultan Trenggana yang tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah, Fathullah Khan (wafat 1573), Sayyid Amir Hasan yang tahun 1550 menggantikan ayahnya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati (wafat 1569), Raden Husamuddin Sunan Lamongan yang tahun 1525 menggantikan kakaknya Sunan Bonang, Sunan Pakuan yang tahun 1533 menggantikan ayahnya Sunan Derajat, dan Sunan Muria (wafat 1551).
* Angkatan ke-7 (1546- 1591 M), terdiri dari Syaikh Abdul Qahhar (wafat 1599), Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak, Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana, Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati, Sunan Mojoagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan, Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan, dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria.
* Angkatan ke-8 (1592- 1650 M), terdiri dari Syaikh Abdul Qadir (Sunan Magelang) yang menggantikan Sunan Sedayu (wafat 1599), Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi yang tahun 1650 menggantikan gurunya Sunan Prapen, Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) yang tahun 1549 menggantikan Sultan Prawoto, Maulana Yusuf, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin, Syekh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani yang tahun 1650 menggantikan Sunan Mojoagung, Syekh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri yang tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana, dan Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos).
Saya senang dgn sejarah tapi banyak sejarah yang di pelintir , jauh dari yg kebenarannya(sejati) termasuk sejarah walisanga contoh Sunan Ampel (R. Rahmat) nama Asli siapa ? Raden Patah nama asli siapa ?. dan cerita tidak seimbang kenapa Demak nyerang Majapahit sedang Raja Maja pahit adalah ayah sendiri. Maaf bukan maksud saya sok pintar, sok tahu, atau menggurui. kita jujur apa sebenarnya.